Nama lengkapku Febri Umar Doni, kebanyakan teman-temanku memanggilku Doni, dan sebagian teman-teman SMA-ku memanggil Febri, namun hanya sedikit sekali yg memanggilku Umar.
“Apa artinya sebuah nama?” ungkap Shakespeare.
Namun, ungkapan itu agaknya tidak tepat ditujukan kpd, knp?
Menurutku yg seharusnya adalah, “Apa artinya tiga buah nama?”
he3…
Banyak orang (sbagian besar guru-guru dan dosen-dosen ku) hampir pasti saat perkenalan , mempermasalahkan nama ku. Menurut mereka, nama yg aku miliki merupakan merupakan nama dr 3 orang yg berbeda, yaitu: Febri, Umar, dan Doni. Hal itu karena mereka tidak menemukan korelasi penggabungan ketiga (kata) nama tersebut.
Andaikan saja ketika orang tua-ku akan menentukan nama ku, mereka jg mempertimbangkan aspek korelasi antara ketiganya. Mungkin saja tidak timbul “permasalahan” seperti ini. Tapi, satu hal yg pasti aku ketahui dr orang tua-ku, bahwa nama ini telah di-”legal”kan melalui prosesi cukuran/marhaban, yg disaksikan oleh sanak famili dan handai taulan.
Aku lahir dan tumbuh sampai menginjak usia remaja di propinsi yg sampai saat ini (berdasarkan survey Pusat Studi Strategi dan Kebijakan (Pussbik) Lampung tahun 2007) merupakan propinsi termiskin ke-2 di Pulau Sumatera, dan ke-8 di Indonesia. Sebuah prestasi cukup memotivasi diriku untuk berbuat sesuatu bagi tanah kelahiranku yg aku cintai. Ya, Lampung, propinsi yg katanya merupakan pintu gerbang pulau Sumatera karena letaknya diujung tenggara dan paling dekat dengan pulau Jawa.
Dua puluh satu tahun yg lalu, tepatnya hari kamis siang tgl 5 Februari, aku menghirup udara untuk kali pertamanya di dunia. Hal itu juga yg menjadi pembenaran ibu-ku, ketika aku kecil mempunyai sifat penakut. Dengan bijaknya ibu-ku mengatakan, sifat penakutku disebabkan karena aku dilahirkan siang hari.
Masa-masa pra-remaja, ku lewati tanpa ada hal yg istimewa.
Sampai pada satu saat, dimana Allah SWT menunjukan kasih sayang-Nya kepada ku. Di titik itu, aku merasa bahwa jika Allah menetapkan sesuatu, tidak ada satupun kekuatan yg bs menghalanginya. “Kun fa ya kun”, jika Allah telah menetapkan sesuatu maka terjadilah…
Singkat cerita, aku yg sejak awal tidak membayangkan bisa kuliah di STAN, Allah takdirkan untuk mengalahkan puluhan ribu orang yg mengikuti tes Ujian Saringan Masuk STAN di tahun 2004.
Kasih sayang Allah SWT tidak selesai sampai disitu. Selama tiga tahun berkuliah di STAN, aku diberikan kesempatan oleh-Nya untuk merasakan manisnya iman dan mengenal lebih jauh kesempurnaan (dien) Islam. Memang Allah SWT tidak pernah ingkar akan janjinya seperti yg tercantum dalam Al Qur’an Surat Ibrahim:
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim:7)
Alhamdulillah, tahun 2007 kmrn aku telah menyelesaikan studiku di Kampus Jurang Mangu pada jurusan Penilai/PBB dengan hasil (indeks prestasi) yg bisa dibilang tidak mengecewakan alias cukup. Saat ini sambil menunggu SK Penempatan, aku sedang magang di Subdit Penyuluhan Direktorat Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak.

Ternyata inikah Febri/Umar/Doni?
He he he…
Don, Lampung termiskin kedua ? Serius ??
Gw sebagai pria Batak yang mewarisi aliran darah Lampung ikut mendukung rencana lo … hehehe…
don, kurang lengkap tuh tentang stannya. kurang valid datanya. kan sekarang stan dah jadi blu. masukin itu juga, dong.
(^_^)v
jah.. dia jualan buku..
“kreatif”nya kok gini-gini aja sih anak STAN yg katanya pinter2?