Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dapat dikatakan merupakan kawah candradimuka calon-calon tenaga keuangan. Di tempat ini lah mereka ditempa untuk diharapkan menjadi pengawal keuangan negara yang tidak hanya ahli dan menguasai ilmu keuangan negara, tetapi juga berwawasan luas dan bermental baja. Terdengar sangat berlebih dan mungkin terlampau idealis. Apalagi melihat kondisi riil kampus STAN, jauh panggang dari api.
Sungguh disayangkan, tempat dimana calon-calon pegawai Departemen Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan dan Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan menimba ilmu, kondisinya tidak mendukung untuk menghasilkan pegawai-pegawai ideal. Pegawai yang mampu mengemban amanah untuk mengumpulkan, menjaga, menyalurkan serta menggunakan ”uang rakyat” dengan benar.
Namun, bukankah hidup ini merupakan pilihan?! Pilihan untuk mengambil jalan lurus atau berkelok-kelok. Pilihan untuk mengatakan tidak dengan tegas atau bernegosiasi terhadap hal-hal yang tidak benar. Pilihan untuk melawan arus atau malah ikut arus. Sampai pilihan untuk lebih mengutamakan kehidupan dunia dibanding kehidupan setelahnya atau sebaliknya.
Allah, Tuhan alam semesta, telah mengatakan melalui firmannya, bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut berusaha mengubahnya sendiri. Sangat jelas, secara tersurat pada qalam ilahi tersebut, bahwa kita sangat tidak dianjurkan untuk berpangku tangan. Menyerah kepada nasib seolah itu sudah merupakan takdir yang telah ditetapkan bagi kita. Tidak! Tuhan menciptakan manusia dengan dilengkapi dengan akal dan pikiran agar digunakan untuk dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Mana jalan yang benar dan mana jalan yang sesat. Mana yang kekal lagi abadi dan mana yang sementara lagi fana.
Lantas apa korelasi dengan kondisi kita (termasuk penulis didalamnya) sebagai fresh graduate STAN yang telah ditempatkan diberbagai macam instansi baik pada Departemen Keuangan maupun BPK dan BPKP. Kita saat ini telah memilih, bahkan jauh sebelumnya, ketika kita menjejakkan kaki pertama kali di kampus Jurang Mangu dengan status sebagai seorang mahasiswa. Kita telah memilih untuk menjadi seorang birokrat. Kita telah memilih untuk memasuki dunia, yang menurut banyak orang jauh dari ideal. Mengutip kata-kata seorang teman, dunia yang serba abu-abu! Bukan karena tidak ada ”hitam”, tapi sangat sulit menemukan yang ”putih”. Di tempat ini, logika kita sulit untuk membedakan, mana hal yang baik dan mana hal yang buruk atau mana yang harusnya kita lakukan dan mana yang harus kita tinggalkan. Satu-satunya yang dapat membedakan hanya hati nurani! Sayangnya, benda yang disebut terakhir tersebut belakangan ini menjadi sesuatu yang langka.
Jika seperti itu kondisinya, jadi apa yang harusnya kita lakukan? Bila kita belum tahu jawabannya, harus dipertanyakan kembali apakah sebenarnya kita sudah siap atau minimal sadar terhadap pilihan menjadi seorang birokrat? Bersyukurlah, jika kita sudah menyadari apa yang telah menjadi pilihan kita, sekarang tinggal mempersiapkan diri untuk masuk ke arena yang sesungguhnya. Jika belum, bisa jadi ini merupakan pertanda bahaya karena waktu yang kita miliki tinggal sedikit untuk benar-benar menjadi bagian dari dunia birokrasi.
Kenapa kita harus mempersiapkan diri? Atau paling tidak menyadari terlebih dahulu akan pilihan kita untuk masuk ke dunia birokrasi. Hal tersebut menjadi penting karena setelah ini, telah mengantri berbagai macam pilihan yang harus segera akan dan harus kita pilih. Dunia birokrasi yang akan kita geluti ini, tidak menyatakan dengan jelas yang hitam itu berwarna hitam dan yang putih itu berwarna putih. Yang ada hanya diantaranya, yaitu abu-abu, sesuatu yang shubhat, tidak jelas apakah bernilai baik atau malah sebaliknya. Apa bila kita tidak hati-hati, bisa jadi kita akan salah memilih dan yang paling menakutkan seterusnya kita akan terjebak pada pilihan yang salah. Bagi yang merasa telah siap, jangan terlalu jumawa karena tidak ada yang dapat menjamin pilihan yang benar atau baik yang akan mereka ambil. Bagi yang merasa belum siap, maka harus extra hati-hati dalam memilih.
Lantas apa yang harus kita siapkan, ketika sudah menyadari akan pilihan menyandang status birokrat. Pilihan yang biasa saja kita akui bersama ternyata bukan pilihan yang terbaik bagi kita. Bukan bermaksud pesimis, tapi mencoba untuk mengingatkan kembali diri kita. Tiga tahun sebagai seorang mahasiswa. di kampus yang tidak cukup ideal bukan merupakan persiapan yang baik. Persiapan yang dapat memberikan kita bekal yang cukup untuk membatu kita melangkah ke jalan yang benar.
Sebenarnya tidak banyak hal yang bisa kita lakukan di waktu yang sedikit ini untuk mempersiapkan diri. Tetapi bukan bearti tidak ada. Bagi yang masa kuliahnya banyak dihabiskan dengan berorganisasi, atau biasa disebut aktifis, dapat membuka lagi koper-koper miliknya yang berisi rekaman perjalanan kehidupan kampus yang dihiasi dengan idealisme. Dengan idealisme itu, ia mampu mengorbankan waktu luangnya di kos atau di kampung halaman, menggantinya dengan berbagai macam kegiatan atau acara yang banyak menghabiskan tenaga dan menguras konsentrasinya. Atau mencoba untuk bertukar pikiran dan berbagi pengalaman dengan teman-teman lama sebagai sesama aktifis. Sehingga nyala api idealisme yang sempat atau telah redup atau malah padam, dapat menyala kembali.
Teman-teman yang ketika di kampus aktif menjadi pengurus masjid atau organisasi kerohanian, saat ini waktu yang tepat untuk mempraktikkan serta mendakwahkan berbagai macam ilmu mengenai kehidupan yang telah mereka dapatkan sebelumnya. Jika sebelumnya anggota risma atau rohis beramal melalui mengajar TPA atau teman-teman yang beragama lain mengadakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan menyemarakkan hari besar agama, sekarang saatnya beramal melalui tindakan, dengan memberikan teladan sekaligus mengingatkan sesama untuk tidak melakukan hal yang salah baik dari sudut pandang agama maupun aturan yang berlaku. Untuk yang gemar berbisnis sejak masa kuliah, saat ini dapat mengembangkan bisnisnya yang sudah atau akan dijalani. Tentunya dengan modal yang bertambah besar, dibanding ketika kuliah. Contoh di atas, hanya sebagian dari sedikit hal yang dapat dilakukan untuk membatu kita mempersiapkan diri.
Kesimpulan yang dapat penulis ambil adalah perbanyaklah kegiatan bernilai positif. Semakin banyak hal baik yang dapat kita lakukan, diharapkan akan dapat membatu kita dalam menghadapi dunia baru ini. Tetapi harus ditekankan pula, kegiatan-kegiatan tersebut tidak malah mengganggu tugas utama kita sebagai birokrat. Dunia birokrasi, walaupun saat ini masih jauh dari ideal namun sedang berproses ke arah yang lebih baik. Salah satunya dapat dilihat dengan program utama pemerintah saat ini yang bertajuk “Reformasi Birokrasi”. Departemen Keuangan menjadi instansi pemerintahan yang mendapat giliran pertama untuk di-reformasi (sistem) birokrasi-nya. Bisa jadi ini sebuah keberuntungan, bagi pengawal-pengawal keuangan negara yang masih idealis. Namun sebaliknya, Reformasi Biroksi ini bisa saja dianggap bencana bagi para pegawainya yang telah terbiasa, nyaman, dan sering memanfaatkan jabatannya di departemen yang mengelola keuangan negara ini. Oleh karena itu, kita -sebagai pemuda, yang sering kali dibebankan tanggung jawab untuk melakukan perubahan- diharapkan dapat membantu mempercepat proses perbaikan yang sedang berlangsung dan entah kapan akan berakhir. Bukan sebaliknya, malah menghambat atau bahkan merusaknya dengan pilihan-pilihan kita yang salah.




alhamdulillah skrg udah kondusif kok. Mau jadi org bener di Pajak gampang… kan udah modern…